SELAMAT DATANG DI BLOK CERPEN REMAJA

MARI MEMBACA AGAR PENGETAHUAN SEMAKIN TERBUKA

Senin, 03 Januari 2011

Menyongsong Hari Gemilang

Angin berhembus menyapu daun-daun, burung-burung berkicau menyambut pagi yang cerah, embun berkabut menyapu wajah pagi nan kian benderang, langkah bergegas para petani karet hiruk pikuk di jalan desa yang berdebu mereka yang ingin segera sampai ke perkebunan karet untuk menyadap getahnya, dipunggung mereka terpanggul “Butah” (keranjang dari bambu) tempat perbekalan makanan untuk sekedar persediaan pengganjal perut dikala haus dan lapar saat bekerja di kebun. Para Nelayan mulai menghidupkan mesin-mesin perahu motor mereka berlayar menuju Selat Sebuku yang kaya akan hasil lautnya.

Jam 06:00 pagi tak terasa kabut pun menipis langit terang di ufuk timur, matahari bersinar kuning keemasan menyembul di balik awan pagi yang berarak. Begitulah hari demi hari yang di lewati oleh Penduduk desa Ujung Pulau Sebuku salah satu desa yang ada di Pulau kecil di wilayah Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan. Pulau yang rindang akan hutan-hutan lebat, pohonan-pohonan tumbuh menjulang tinggi menambah indahnya pemandangan alam, udara yang sejuk menambah kesegaran nafas-nafas pencari nafkah keluarga yang rata-rata dari golongan Petani dan Nelayan, mereka hidup sejahtera seolah-olah tanpa beban.

Tahun 2003 telah hampir berakhir tinggal tiga bulan lagi, keadaan hari demi hari berjalan seperti biasa tak ada perubahan yang drastis, pembangunan desa-pun tak kunjung datang, kehidupan masyarakat hanya alami dan serba sederhana lantaran tertundanya program pembangunan desa terpencil, jarak tempuh dengan kota kecamatan sekitar 6 km yang harus melalui jalan desa yang kadang datangnya musim penghujan penuh dengan becek dan dikala musim kemarau penuh dengan debu jalanan.

“ Zai, sarapan dulu, nak ! ”.
Perintah Ibu Norma seorang ibu setengah baya kepada Zainal anaknya.
“ Iya, bu.Sebentar” jawab Zainal, bocah berkulit sawo matang berusia 12 tahun yang sedang berpakaian seragam sekolah SMP, dia sekolah di SMPN 1 Pulau Sebuku sebuah Sekolah Negeri yang terletak di desa Sungai Bali ibukota kecamatan Pulau Sebuku. Setelah selesai berpakaian Zainal langsung menuju ruang makan yang sudah tersedia sarapan pagi yang di siapkan ibu Norma, Pak Hasim ayahnya Zainal adalah seorang laki-laki berusia 40 tahunan telah lebih dulu berada disana bersama Susi adiknya seorang bocah cilik perempuan berusia 3 tahunan, setelah itu mereka sarapan pagi bersama.

“ Kring-kring-kring…”
Bunyi lonceng sepeda yang ramai mampir di jalan desa tepat di depan halaman rumah Zainal. Rupanya teman-temannya telah datang.“Zai, ayo berangkat sama-sama”. Suara seorang anak dari luar rumah, rupanya Udin dan teman-teman Zainal lainnya ramai-ramai dengan sepeda masing-masing telah siap-siap menuju sekolah. ”Iya, sebentar.” Jawab Zainal yang juga telah siap untuk berangkat dia meraih tangan ibu dan ayah nya kemudian mencium tangan mereka sekaligus pamitan untuk berangkat sekolah.
” Ibu, Bapak, Zai berangkat ya”. kata Zainal.
” Iya nak hati-hati di jalan, ya!” Jawab Pak Hasim seraya di tanggapi bu Norma dengan anggukan dan senyuman kepada anak sulungnya itu.”Iya, Pak.”Jawab Zainal.

Jam telah menunjukkan pukul 07:00 pagi anak-anak itu sedang berangkat kesekolah dengan beriringan kurang lebih ada 30 buah sepeda ada yang berboncengan satu sama lain dan ada yang sendirian mereka mengayuh sepeda dengan teratur, ada yang sambil ngobrol satu sama lain, ada yang mengayuh sepeda sambil bersiul dan bernyanyi. Telah Nampak keakraban dan kecerahan diwajah diantara anak-anak desa itu masing-masing.

“ Zai, bagaimana PR Bahasa Inggris kamu ? Udah selesai ?”.
kata Lili seraya mengimbangi jalannya sepeda Zainal sehingga berdampingan satu sama lainnya.
“Oo Iya, Beres. Kamu sendiri bagaimana,udah ya?”. Tanya Zainal balik.
“emm, iya udah sih, tapi susah banget ya.Aku terpaksa minta bantuan sama Kak Mira”. Jawab Lili . “Ooh, Kak Mira.
“ Beruntung kamu punya kakak seorang guru,tapi apa mungkin kak Mira bisa sedang dia kan guru SD?”. Kata Zainal.
“ yah tentu dapet dong, karena kak Mira kan pernah juga mempelajari saat dia kuliah dulu”. Jawab Lili.
”O ya Li, kak Mira itu kenapa ya, ngak mau mengajar di kota saja, kok malah milih mengajar di desa, padahal di kota kan sudah maju di segala bidang, gak seperti di desa kita ini serba ketinggalan”.tanya Zainal.
”Oo,Kak Mira pernah aku tanyai seperti pertanyaan kamu itu Zai, katanya justru kak Mira malah senang tinggal didesa dan mendidik anak-anak di kampunya sendiri, dia ingin agar anak-anak di tempat kelahirannya menjadi pintar sehingga tidak ketinggalan dalam hal ilmu pengetahuan di era modern ini ”. jawab Lili.
” Iya ya, betul juga Kak Mira kamu itu,aku juga punya cita-cita menjadi seorang guru, aku ingin menjadikan guru ”.Kata Zainal.
”Emangnya kamu pengan jadi guru apa Zai, guru SD,SMP atau SMA ?”. Tanya Lili.
” Aku ingin jadi guru SMP yaitu guru Bahasa Inggris ”. jawab Zainal dengan mantap.
” Waah, hebat dong, kamu memang selalu unggul dalam pelajaran Bahasa Inggris dikelas kita” Puji Lili sambil tersenyum.” Aah, kamu bisa aja Li, aku jadi tersanjung nih”. Kata Zainal
“ Buktinya kan setiap Ulangan Bahasa Inggris pasti kamu yang nilai paling tinggi ”. Kata Lili lagi.”Huu, bisa aja kamu, ayo kita udah ketinggalan dari teman-teman nih ”. Kata Zainal sambil mempercepat kayuhan sepedanya sambil mendahului sepeda Lili sehingga merekapun menghentikan obrolan mereka.

Pagi itu jam 07:30 di rumah yang terletak sekitar 50 m dari Sekolahan SDN desa Ujung telah bersiap seorang gadis belia berisia 21 tahun dengan pakaian rapi dengan Jilbab Putih dan menghias wajah cantiknya dengan dandanan sederhana namun memukau mata yang memandangnya karena memang tidak bisa di pungkiri bahwa gadis ini memang cantik jelita. Dia adalah Mira Arini, seorang guru muda yang statusnya sudah Pegawai Negeri Sipil. Dia mengajar di Sekolah dasar di didesanya sesuai dengan cita-citanya sejak kecil ingin menjadi seorang guru dan ingin berbakti kepada kedua orang tuanya yang hidup hanya sebagai Petani di desanya.

“ Ibu,Bapak, Mira dan Abdi berangkat ya”.
Kata nya pamitan sama bu Karti dan Pak Hasan yang saat itu kedua orang tuanya masih ngobrol di ruang makan sambil menikmati secangkir kopi dan sepiring pisang goreng yang telah di buat Mira pagi itu “ Iya, selamat bekerja ya nak ”.Kata Ibu Karti serta Pak Hasan sama-sama keduanya langsung beranjak dari kursi dan mereka mengantar anak sulung dan bungsu mereka itu sampai ke teras depan dengan wajah berseri memandang Mira dan Abdi yang mengendarai Sepeda motor bebek Yamaha F1 berboncengan, terbersit di hati mereka masing-masing atas rasa syukur mereka karena memiliki anak yang berhasil mengenyam pendidikan dan mencapai cita-citanya walaupun mereka menjalani dengan hidup serba sederhana sebagai seorang Petani Karet dan Kelapa tapi masih bisa membiayai anak-anak mereka bersekolah dan sekarang terbukti anak sulung mereka telah berhasil menjadi guru PNS tinggal Lilianti anak kedua yang masih duduk di kelas 3 SMP dan Abdillah anak bungsu mereka yang masih duduk di kelas 4 SD.

Matahari semakin beranjak naik pagi itu jam menunjukkan pukul 9:00 di ujung desa tepatnya di Tanjung Nusantara sebuah lokasi tempat eks Perusahaan Kayu Logging di tahun 80-an masih termasuk wilayah desa Ujung Rt 4, tempat itu berupa areal dataran rendah pinggir laut selat Sebuku yang diapit oleh dua Pulau yaitu Pulau Sebuku dan Pulau Laut yang jaraknya sekitar 30 km antara keduanya tanahnya yang merah bertanda mengandung bijih besi yang memiliki kadar tinggi sehingga lahan tersebut sangat cocok untuk lahan Perusahaan sisa-sisa perusahaan masih ada terbukti rongsokan besi alat berat seperti besi bulldozer dan mesin-mesin lainnya juga tembokan tanah yang memanjang kearah laut tempat menyandarnya kapal tongkang kayu juga masih ada dan sedikit rusak namun masih bisa digunakan untuk menyandar kapal very carteran yang kadang di gunakan pengusaha desa untuk mengangkut mobil Pick Up atau truk yang mereka beli dari kota untuk keperluan para pengusaha di desa tersebut umumnya mereka adalah pengusaha kayu.

Sebuah Perahu Motor cepat atau yang biasanya di sebut speed boad dengan di tumpangi 5 orang 4 penumpang dan 1 orang operator speed boad sendiri telah nyandar di tepi tebing tembokan tanah bekas tembokan tempat nyandar kapal tongkang Perusahaan PT.Sumpol Indonesia di tahun 82-an, 5 orang penumpang tersebut berpakaian rapi dan tampak mentereng 3 orang yang tampak berusia sekitar 45-an Tahun lebih dan 1 orang tampak lebih tua badan agak gemuk sedang diperkirakan umur setengah abad lebih kulit putih bermata sipit menandakan dia adalah orang keturuan China namun Nampak masih gagah dan penampilan pakaian yang serba mahal dengan tas kecil tergantung di pinggang entah apa yang dia simpan didalamnya pemandangan tersebut menandakan dia adalah orang sukses dan kaya, demikian ada 1 orang temannya agak lebih muda dari dia berbadan kecil dan satu agak gemuk keduanya agaknya memiliki ras yang sama karena bermata sipit dan berkulit putih 1 orang lagi yang berkaca mata hitam berbadan tinggi jangkung adalah orang dari keturunan melayu seperti kita umumnya kulitnya coklat dan rambut tipis tampak sudah beruban menandakan orang teresebut sudah berusia hampir setengah abad sementara yang 1 orang lagi juga keturunan melayu berlogat Sunda berkaca mata Hitam tubuh tinggi sedang kulit coklat rambut agak panjang .

“ Pak Johan ada signal ya di hape sampean?”. Tanya si mata sipit yang paling tua sambil membuka handphone yang bermerk Samsung dari Saku Handphone yang tergantung di pinggangnya. Saat itu tahun 2003 Pulau Sebuku khususnya di kecamatan Sungai bali memang belum dimasuki Jaringan telepon selular kalaupun ada masih kadang-kadang muncul karena pantauan dari seberang yaitu Pulau laut karena posisi mereka di pinggir laut dan jarak antara Pulau masih sekitar 20 km dari selat Sebuku dengan Pulau laut yang kebetulan sudah ada memiliki Tower Telkomsel tepatnya di Pantai Gedambaan Pulau Laut dan itulah yang menyebabkan adanya signal selular bagi Handphone para pengusaha yang tepatnya berada di Tanjung Nusantara Pulau Sebuku tersebut.
“ Sebentar Pak Effendi, saya lihat dulu. Wah nampaknya ada ini Cuma 1 signal, sepertinya pantulan dari seberang nih”. Kata orang yang jangkung keturunan melayu yang rupanya dipanggil Pak Johan dia sebenarnya adalah orang Banjarmasin.
“ Tepat sekali dugaan saya, Pulau ini banyak kandungan bijih besinya. Wah tidak sia-sia aku ke Kalimantan”. Kata orang China yang lebih tua yang ternyata namanya dipanggil Pak Effendi rupanya dia adalah seorang Bos Pemilik Perusahaan Bumi Pasir Mandiri di Jawa Perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan Pasir di Gunung Krakatau Selat Sunda dibagian barat Pulau Jawa.
“ Waduh, nampaknya kita harus jalan nih menuju perkampungan sekitar sini, jalan ini sepertinya menuju kesebuah desa Pak Buyung ”. kata si kulit putih bertubuh kecil kepada temanya yang dipanggil Pak Buyung orang yang berkulit Coklat sambil menunjuk jalanan bertanah merah yang masih agak luas yaitu jalanan yang pernah dibuat perusahaan PT.Sumpol Indonesia.
” Iya, ya sepertinya begitu Pak Toni”. Jawab Pak Buyung,” Yah, kita telusuri saja jalan ini dulu, bagaimana semuanya?”. Kata Pak Johan.
” Oke Pak Johan”. Jawab Pak Effendi yang disambut anggukan dari yang lain. Akhirnya pagi menjelang siang itu mereka berjalan menyusuri jalanan bertanah merah tersebut untuk mencari sebuah desa di sekitarnya

“Anak-anak hari ini kita akan membahas pelajaran IPS, kalian siapkan catatannya masing-masing”. Kata Mira kepada anak-anak kelas 6 SD seraya sambil membuka Peta Dunia dan menempelkannya ke Papan tulis.
” Iya, bu”. Jawab anak-anak mereka masing-masing membuka buku catatan IPS masing-masing.
“ Coba kalian perhatikan Pete ini, ini adalah Pete Pulau kita, ada yang tau nama Pulau Kita?”. Tanya Mira melempar pertanyaan memancing kepada murid-muridnya.
“ Tau, bu. Pulau Sebuku”. Tanggap si Halim dengan cepat.”Bagus, kamu benar Halim.Pulau kita ini adalah salah satu pulau terkecil di Kalimantan namun kita harus ketahui Pulau kita kaya akan kandungan Batubara sebagaimana kalian ketahui di ujung Pulau kita ini telah di tambang oleh Perusahaan untuk mengambil Batubaranya kalian sudah tau?”. Tanya Mira.”Tau bu, di daerah desa Sekapung”.jawab Ana.
” Ya betul sekali”.timpal Mira
“ Perlu kalian ketahui Pertambangan Batubara itu akan mengeruk hasilnya di dalam tanah yang mencapai hingga puluhan bahkan ratusan meter dalamnya demikian juga lebarnya, sehingga Pulau kita yang kecil ini sedikit demi sedikit akan berkurang luasnya dan akhirnya hasil kerukan akan menyisakan danau-danau yang dalamnya puluhan bahkan ratusan meter,bukan begitu anak-anak?”. tanya Mira kepada murid-muridnya.”Iya bu…” jawab anak-anak.” Tapi apakah Perusahaan tidak mengupayakan untuk menutup lobang-galian nya bu?” Tanya Mimin kepada Mira.”Pertanyaan yang bagus Min, kamu benar seharus nya Perusahaan mengupayakan untuk menutup kembali dan mereklamasi lahan hasil galian mereka, tapi walau bagaimanapun pulau kita adalah Pulau kecil dan tidak memiliki gunung-gunung yang bisa di ambil tanahnya untk di keruk menutupi lahan galian,contohnya di daerah Tanah Putih desa Sekapung beberapa danau telah di penuhi dengan air ada yang pernah kesana?”.tanya Mira.
“ Pernah bu, kebetulan saya punya keluarga tinggal di Sekapung”. Tanggap Maman.” Dan saat saya berkunjung kerumahnya, saya diajak Didi sepupu saya melihat daerah pertambangan meskipun dari jarak jauh namun kami melihat lahan yang galian disana sini memang banyak. Lobang –lobang galian yang sudah tidak ditambang lagi di tinggalkan sehingga terisi oleh air secara alami sehingga menjadi danau, duh saya melihat jadi takut bu airnya pun berwarna biru nampaknya sangat dalam”. Kata Maman menjelaskan.
” Kamu benar sekali Man, memang begitulah kenyataanya”.kata Mira.
” Anak-anak ada yang mau bertanya?”. Pancing Mira lagi.
“ Saya bu, mau tanya”. sergah Mimin sambil mengacungkan telunjuk.” Silakan, Min”. kata mira
“ Emm, Oya bu, Apa kemungkinan lain yang akan menjadi dampak dari pertambangan bagi Pulau kita nantinya?”. Tanya Mimin.
” Pertanyaan yang bagus” tukas Mira. ” ada kemungkinan pulau kita akan rawan terjadinya gempa karena runtuhnya tebing-tebing danau yang dalamnya sampai ratusan meter,tebing tersebut lama kelama-kelamaan akan melemah karena resapan air ke dinding tebing tanah sehingga akan terpancing untuk longsor kedasar danau kalau terjadi demikian yang kasihan adalah anak cucu kita nantinya yang merasakan dampak dari kerusakan tersebut”.jawab Mira yang disambut anggukan oleh anak-anak.” Lalu,bagaimanakah cara kita untuk mengatasi hal tersebut ,bu?” Tanya Lina dengan raut muka tampak agak sendu dan prihatin. ”Bagus sekali, Lina. Kita sudah tidak berdaya untuk menghadapi hal tersebut yang menimpa pulau kita, tapi harapan ibu tanamkan niat kalian untuk selalu memperbaiki alam kita ini dengan cara sekecil apapun tindakan kalian misalnya, rajinlah menanam pohon di lahan-lahan kosong kalian, jangan menebang pohon sembarangan dan yang paling penting kelak kalau kalian sudah dewasa dan menjadi anak-anak yang pintar dan sukses jangan sekali-kali tertarik untuk berusaha di bidang pertambangan walaupun itu menjajikan kekayaan bagi kalian tapi sebenarnya kekayaan itu hanya sementara tapi akhirnya kalian akan menyakiti generasi anak cucu kalian sendiri, cobalah kalian memikirkan untuk menjadikan bumi kita hijau dan rindang pupuklah tanaman yang ada di sekitar kalian dan itu adalah sangat membantu kelestarian alam kita.” Kata Mira menerangkan akhirnya anak-anak pun semua mengangguk bertanda mengerti arah pembicaraan ibu guru mereka. Lonceng Istirahat pun berbunyi bertanda jam telah menunjukkan pukul 10 siang Mira mengucapkan salam dan menutup pertemuan di kelas 6 seraya dijawab salam oleh murid-muridnya serentak dan mereka pun keluar ruangan untuk istirahat.

Total Tayangan Laman